Penyebab Serta Dampaknya Bagi Kehidupan Manusia

Perubahan dalam System Iklim

Atmosfer adalah sistem yang sangat Dinamis, sehingga data pengamatan yang berkualitas dan pemeliharaan kerapatan Jaringan pengamatan adalah hal yang sangat penting. Proses yang mengarah ke perubahan iklim dapat dianalisis dengan skala waktu yang berbeda, dan radiasi netto atau energi yang tersedia dipermukaan bumi sangat berperan dalam proses tersebut. Pada Dasarnya kondisi energi dipermukaan terbagi atas 2, yaitu input radiasi matahari dan cara komponen komponen penyusun bumi untuk menyimpan, mendistribusikan dan melepaskan energi tersebut.

Penyebab eksternal perubahan iklim

  • Input radiasi matahari langsung; Radiasi memegang peranan penting dalam perubahan iklim. Melalui pengamatan satelite diketahui bahwa konstanta matahari saat ini menjadi lebih bervariasi dari sebelumnya. Salah satu faktor penyebabnya adalah bintik hitam matahari ( Sunspot ) . Semakin banyak jumlah sunspot maka output radiasi matahari juga meningkat.
  • Aktivitas manusia penyebab perubahan iklim.

Karakteristik kecenderungan iklim menurut Intergovernmental Panel on Climate Change ( IPCC ) :

  • Suhu udara Global meningkat 0,6 °C sejak akhir abad ke-19
  • Pemanasan terkonsentrasi di dua periode, yaitu tahun 1910-1945 dan 1976-sekarang
  • Rentang pemanasan sekitar 0,2 °C per dekade
  • Tahun 1900-an merupakan dekade terhangat di milenium terakhir, dan tahun 1998 merupakan tahun yang paling hangat selama periode tersebut.
  • Berkaitan dengan perubahan suhu, banyak gletser yang mencair
  • Presipitasi di daratan bertambah sekitar 2 % dibanding abad terakhir
  • Eropa Utara dan Amerika Utara bagian Utara telah mengalamai peningkatan presipitasi terbesar
  • Di daeerah Tropis dan Subtropis kecenderungan perubahan iklim cukup kecil. Meski terdapat kekeringan di Afrika dan Hujan Monsunal di India yang berlangsung lama, namun tidak ditemukan pola linier di sebagian besar wilayah tropis yang mengalami peningkatan Jumlah curah hujan.

 

Pemanasan Global

Kandungan COdiudara mengalami peningkatan akibat aktivitas manusia. Gas CO2 menyerap radiasi balik dari permukaan bumi dan meneruskannya kembali ke permukaan bumi, sehingga permukaan bumi menjadi lebih hangat. Dan perlu diingat bahwa pemanasan di level bawah maka panas di level atas akan berkurang, karena pemanasan di troposfer berarti pendinginan di stratosfer.

 

 

 

 

 

  • Karbon Dioksida
  • Metana
  • Gas Rumah Kaca Lainnya
  • Faktor pendingin : Pengurangan ozon di stratosfer akan berdampak pendinginan secara global.

Potensi rumah kaca di masa depan

Pemahaman mengenai proses fisis, yang melibatkan gas-gaas efek rumah kaca dalam perubahan iklim sangat diperlukan untuk memperhitungkan kondisi iklim di masa depan. Yang kemudian dikorelasikan dengan pertambahan populasi, pertumbuhan ekonomi serta kemajuan tekhnologi.

Gas-gas Rumah Kaca atau Greenhouse Gasses adalah gaas-gas yang menyebabkan terjadinya efek rumah kaca, baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain uap air (H2O), Siklus Air dan Karbon dioksida (CO2), terdapat gas rumah kaca lain di atmosfer, dan yang terpenting berkaitan dengan pencemaran dan pemanasan Global adalah Metana (CH4), ozon (O3), dinitrogen oksida (N2O), dan chlorofluorocarbon (CFC) atau Perusakan Lapisan Ozon.
Gas Rumah Kaca (GRK) yang berada di atmosfer dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia terutama yang berhubungan dengan pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batubara) seperti pada pembangkitan tenaga listrik, kendaraan bermotor, AC, komputer, memasak. Selain itu GRK juga dihasilkan dari pembakaran dan penggundulan hutan serta aktivitas pertanian dan peternakan. GRK yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, seperti karbondioksida, metana, dan nitroksida, menyebabkan meningkatnya konsentrasi GRK di atmosfer.

Sektor Emisi GRK Ekuivalen CO2 (Gg) Total Emisi GRK (%)
Kehutanan & Tata Guna Lahan 315.290,19 42,5
Energi dan Transport 303.829,95 40,9
Pertanian 99.515,24 13,4
Proses Industri 17.900,50 2,4
Limbah 6.039,39 0,8
Total 742.575,26 100,0

Dampak Perubahan Ikllim Terhadap Ruang Lingkup

  • Udara : Terjadi selama polutan dalam atmosfer berdampak terhadap kandungan zat hidroskopis dalam atmosfer yang dapat mempengaruhi kandungan kimia air hujan.
  • Laut : Akibat pencairan gunung es di daerah kutub menyebabkan jumlah volume air laut meningkat dan salinitas berkurang
  • Darat : Meningkatkan suhu udara permukaan berdampak terhadap kehidupan makhluk hidup  diatas permukaan, dll.

Efek terhadap siklus hidrologi

  • Presipitasi
    Presipitasi adalah penentu utama dari variabilitas kesimbangan air dalam ruang dan waktu. Dan perubahan presipitasi akan sangat berdampak terhadap hidrologi dan Sumber air. Variabilitas hidrologi umumnya dipengaruhi oleh variasi presipitasi pada skala harian, musiman, tahunan, dan dekade.
  • Evaporasi
    Evaporasi dari permukaan tanah merupakan penguapan dari air terbuka, tanah, air dangkal, air yangtersimpan pada vegetasi, dan hasil transpirasi tumbuhan. Laju evaporasi dari permukaan tanah di tentukan oleh kontrol meteorologi, melalui karakteristik tanah dan vegetasi, dan didukung oleh jumlah air yang tersedia. Perubahan iklim berpotensi mempengaruhi semua faktor ini. Namun penentu laju evaporasi yang paling berpengaruh adalah ketersediaan air. Sebagai contoh, pengurangan jumlah air tanah saat musim panas akan mengurangi laju evaporasi.
  • Kelembapan Tanah
    Jumlah air yang terkandung didalam tanah sangat penting untuk agrikultur, laju evaporasi, penggantian air tanah dan runoff. Pengaruh perubahan iklim terhadap kelembapan tanah tidak hanya dipengaruhi oleh seberapa besar perubahan iklim tersebut namun juga oleh karakteristik dari tanah itu sendiri.
  • Efek perubahan iklim terhadap aliran sungai

  • Danau
    Danau pada umumnya akan banyak terkena dampak saat terjadi perubahan iklim. Variasi suhu udara, presipitasi, dan komponen meteorologi lainnya akan berdampak langsung terhadap evaporasi, keseimbangan air, level danau, kejadian es, hidrokimia, hidrobiologi dan ekosistim danau secara keseluruhan. Perubahan iklim juga akan berdampak terhadap kualitas air danau, melalui perubahan suhu air.
  • Perubahan frekuensi banjir
    Model iklim secara global tidak dapat mensimulasi dengan keakurasian jangka pendek, intensitaas tinggi, menentukan lokasi hujan lebat, dan perubahan rata-rata hujan bulanan. Menurut Reynard ( 1998 ) resiko banjir meningkat seiring dengan peningkatan curah hujan, yang disebabkan oleh akumulasi hujan selama beberapa hari, bukannya curah hujan tertinggi.
  • Perubahan Frekuensi kekeringan Hidrologi
    Kekeringan dapat dikarakteristikan dengan kurangnya curah hujan, kurangnya kelembaban tanah, kurangnya jumlah air di sungai, level air tanah yang berkurang atau kurangnya tinggi muka waduk. Sedangkan kekeringan hidrologi dikatakan terjadi apabila level sungai atau air tanah rendah, dan sumber air dikatakan kering bila level sungai, air tanah, atau waduk yang rendah itu berdampak pada penggunaannya. Oleh karena itu kekeringan sumber air tidak hanya bergantung pada input iklim dan hidrologi namun juga oleh karakteristik sistem dan penanganan kekeringan sumber air itu sendiri.
  • Kualitas air
    Air d sungai, waduk, dll secara alami mengandung banyak bahan yang larut didalamnya, bergantung pada input dari atmosfer, kondisi geologi, dan iklim. Bahan-bahan ini menentukan karakteristik kimia air tersebut. 

    1. Kualitas kimia air sungai adalah fungsi bahan kimia yang terlarut di sungai, suhu air, dan volume arus. Suhu air sungai bergantung pada suhu atmosfer, angin dan radiasi matahari. Kualitas aliran arus akan dipengaruhi oleh volume aliran, yang kemudian mempengaruhi konsentrasi dan muatan total air sungai
    2. Kualitas air sungai di banyak sungai, danau, dll secara langsung maupun tidak langsung sangat bergantung pada aktivitas manusia.