Tidak terasa waktu terus bergulir, tanpa ada yang bisa menghentikan. Dan Allah bersumpah, “Demi waktu ….,” dalam surat al ‘Ashr. Itu berarti waktu amat penting dan harus diperhatikan oleh manusia. Jika tak ada waktu, tidak akan ada perjalanan umur manusia. Tidak memperhatikan waktu dan umur, akan membuat kehidupan sia – sia. Pada ayat selanjutnya Allah mengingatkan, “Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang – orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati dalam menetapi kesabaran”.

Tahun baru hijriyah sudah di depan mata, apa yang akan diperbuat manusia di tahun depan untuk masa depan nya, untuk masa depan bangsa, untuk masa depan Islam. Manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk sosial yang selalu berhadapan dengan berbagai persoalan, masalah dan problematika hidup dan kehidupan; pribadi, keluarga, maupun masyarakat dan bangsa, dengan keadaan masalah yang bervariasi. Namun di antara makhluk yang diciptakan Allah, manusia adalah makhluk yang paling potensial, dengan segala kelebihannya. Dengan modal itu manusia bisa mengatasi problematika hidupnya. Tidak mungkin Allah SWT memberi sesuatu beban atau masalah pada hamba-Nya tapi tidak kuat memikulnya.

Hijrah secara harfiah berarti berpindah, meninggalkan, berpaling, dan tidak memperdulikan lagi, mempunyai beberapa pengertian. Namun yang lebih penting adalah apa yang berhijrah.
Hijrah batiniah atau artinya secara maknawi/filosofis, di mana seorang berpindah dari salah menuju benar Lillah, dengan niat yang benar, ikhlas dan aqidah yang lurus. Hijrah dzahiriah atau dalam artian makani/tempat (fisik), dimana konsep hijrah adalah berpindahnya Nabi Muhammad saw dari Mekah ke Madinah pada 622 M, dalam bentuk perbuatan yang nyata. Sangat perlu apabila makna hijrah tersebut dilihat secara filosofis, sehingga bermakna bagi kehidupan bangsa ini.

Dalam hal apa saja seorang mukmin itu berhijrah? Tentu dalam segala aspek kehidupannya, menuju pada nilai-nilai dan ruh yang selalu menjiwai setiap gerak dan langkah seorang Muslim dari aqidah, syari’ah, akhlaq, sampai kepada adat (kebiasaan). Semua menuju kehidupan yang lebih manusiawi sesuai dengan fitrahnya, sesuai yang telah tersurat dan tersirat dalam Al Qur’an dan Sunnah Nabawiyah. Dari mana dimulai? dari diri sendiri, dari dalam diri. Selanjutnya, dari keluarga, kemudian dari masyarakat. Untuk bisa mengukur diri, mengukur kemampuan, sampai seberapa wujud manusiawi kita di hadapan Allah dan di hadapan manusia.

Hijrah dan tahun Hijriyah adalah tonggak kemerdekaan, kemenangan identitas diri dalam; aqidah (keyakinan), sibghoh (celupan), amaliyah (perbuatan), harakiyah (gerakan) “lanaa al maulaa walaa maulaa lahum”. Untuk menjalankan “keislaman” tidak perlu melewati toleransi terhadap kemungkaran atau kemaksiatan. Jadi tidak karena; keturunan, kekayaan, kejayaan, dan sebagainya yang bersifat keduniaan, lantas mengorbankan harga diri, identitas sebagai seorang Muslim.

Fastabiqul khoiroot berpacu jangan menoleh! rebutlah tongkat risalah kemanusiaan! Bersaing dengan luar Islam. Jangan terbalik! Berebut dengan keluarga sendiri, sesama ummat Islam, tidak berani bersaing dengan pihak luar, bersaing untuk menjadi Ma’mum / kuli pihak luar ummat Islam. Wa’tasimuu Bihablillaah dan sebagainya. Ada orang mengindonesiakan dengan ungkapan yang unik: “kita ber “fastabiqul…dan juga ber “wa’tasimuu..” tapi jangan lupa “berwalaa tafarroquu..” dan ber “wata’aawanu..” Bertolong – tolongan, dan tetap pada pegangan yang kuat melalui pola tuntunan dan tuntutan Allah. Memposisikan diri sebagai Mundzir bukan Mundzar.

Dimana dan bagaimananya luas dan beragam, tidak ada yang berhak menyatakan paling penting, sebab syarat iman jihad dan niat dimana dan kapan saja diuji sesuai kapasitasnya. Apalagi dengan terjadinya musibah dan datangnya masalah serta kasus yang tak habis – habis atau dibuat tidak habis – habis.

Banyak yang terhempas dimedan laga, macet ditengah jalan karena angin penggoncang terlalu kencang. Banyak pula yang lancar melaju, dan ada yang bernasib lain, tidak melaju dan tidak macet. “Tunggak Jarak Merajak Tunggak Jati Mati.” Bersyukurlah yang sampai kepantai harapan karena tidak semua orang yan suka kebaikan melakukan, dan tidak semua yang suka melakukan tutug sampai finish, batas.

Fasilitas perjuangan memang pahit tak menyenangkan, jelas kurang nyaman, menarik dan sebagainya. Benar memang, tapi kesulitan, nasib duka itu keindahan sementara. SERIBU SATU alasan untuk nyaman, menarik, SERIBU SATU alasan tak nyaman tak menarik. Roda nasib ummat manusia tak pernah berhenti berputar dan demikian pula nasib nilai – nilai kemanusiaan tak luput dari perputaran posisinya. Ada yang meninggalkan dan ada yang mempertahankannya. Wa tib nafsan idzaa hakamal qodloo’, semboyan klasiknya. Kejamnya ungkapan jahiliyyah: manlam yadhliminnaas yudhlam; kalau tidak menipu akan ditipu;…

Ummat ini disuruh mendorong mobil mogok lalu ditinggal lari. Tapi memang banyak yang cerdas sengaja tetap tak mau ikut naik sebab mobilnya amat sangat hobby mogok; mendingan buat mobil baru, bisakah? Itulah teori celoteh seminar, para pengamat, penulis yang mengaku cerdas, tidak mau dan takut berbuat.

Pejuang, mujahid haqiqi meskipun digocek, ditindas, diancam, diteror tetap njenggelek, tegak tegar! Musuh berkepala batu, bertindak sepihak pejuang perlu demikian juga, why not? Dua paradigma perjuangan “berperang kalah, mati; tidak berperang, juga kalah dan juga mati.” Pilih mana? “berperang menang ISLAM JAYA; tidak berperang menang ISLAM JAYA.” Pilih mana?
Euforia, mabuk, kemaruk, puber, maghrur ilmiah/titel/intelek dan sebagainya sering menjadi syetan – syetan penjerumus baru. Tamak yang kebablasan? Subhaanallaah! Kasihan! Anak Bangsa yang Awam!

Sekali lagi dan terus berulang kali hidupkan dalam diri amanat MUNDZIRULQOUM, bukan MUNDZARULQOUM; DECISION MAKER, bukan DECISION NGEKOR…. atau menjadi ashaabul kahfi …”kaannaka tamuutu ghodan” sementara, generasi penerus tampil” sebelum patah sudah tumbuh sebelum hilang sudah berganti”.

Islam dan Umat Islam saat ini dikelilingi lingkungan kurungan yang kotor, jauh dari kemanusiaan;
-Money politik, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, hukum
-Monkay politik, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, hukum
-Donkey politik, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, hukum, hingga
-Bankey politik, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, hukum

Perang peradaban berjalan terus sejak zaman Nabi Adam sampai zaman Saddam, dan seterusnya (kata pelawak). Konspirasi Internasional membina bakat dan minat tanpa value (nilai).

Umat perlu dibina agar mengkondisikan diri, bukan menyesuaikan diri. PENJAJAHAN versus KEMERDEKAAN. Dilengkapi dengan kemampuan manajerial untuk memberdayakan dan mengoptimalkan; sumber daya manusia, sumber daya alam, qolbu, waktu, sosial kemasyarakatan, ekonomi, organisasi, opini dan lain-lain termasuk di dalamnya manajemen informasi.

Perjalanan panjang kehidupan manusia dari Nabi Adam As dan Siti Hawa, Qabil dan Habil dengan kasus – kasus yang terjadi. Nabi Nuh As, Nabi Ibrahim As, Nabi Musa As, Nabi Isa As dengan masalah-masalah yang timbul hingga Nabi Muhammad SAW adalah proses menuju tatanan dunia baru, kehidupan yang berkemanusiaan dan fitrah yang sempurna.

Jadi hijrah bukan hanya perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, juga bukan dari satu sistem ke sistem lain, tapi totalitas hijrah dari tanpa bernilai moral kemanusiaan ke tatanan yang bernilai -moral kemanusiaan yang sempurna- itulah fitrah. Dari ketergantungan pada sistem penjajah menuju kemerdekaan dan pengusiran segala macam penjajahan (kolonialisme dan neo kolonialisme).

Semua kerusakan di dunia ini akibat dari penyelewengan manusia dari kemanusiaan yang sempurna -FITRAH. Bani Israil/yahudi itu PR kemanusiaan, sampai hari kiamat.

Macam-macam tujuan perubahan, perbaikan dan perpindahan manusia dalam hidupnya antara lain untuk;

  1. memperbaiki diri, menjadi baik.
  2. memperbaiki/perbaikan orang lain dan lingkungan.
  3. kepentingan relatif :
    • Positif; kebajikan, pengabdian “LILLAH”
    • Negatif; hawa nafsu, harta – tahta – wanita, keduniaan “LIDDUNYA”