Catatan dari Buku Hijau

Kata Cinta memang selalu terdengar indah di telinga. Setiap orang punya rasa cinta dan juga memerlukan apa yang dinamakan Cinta, karena cinta adalah anugerah dari Tuhan. Tuhan memberikan rasa cinta agar manusia hidup damai dan tentram di dunia.

Bila kita lebih memahami arti daripada kata cinta mungkin di dunia ini semua orang akan hidup damai tanpa terjadinya peperangan dan perselisihan yang menyakitkan, tak salah jika kita katakan bahwa cinta itu penuh keindahan.

Cinta bukan hanya milik orang muda, tapi cinta milik manusia.

Kita ada karena Cinta, karena cinta kita dapat saling menyayangi.

* KASIH BUNDA *

Tidurlah sayang dalam pelukan bunda

Rasakan lembut belaian tangan bunda

Terlelap dikau dalam kasihnya

Bermimpi dikau dalam pangkuan bunda

Aku terjaga tatkala belaian bunda tak ada

Aku terbangun tatkala bunda tiada

Aku menangis tak ada tempat bermanja

Aku menangis tak ada pelipur lara

Aku bertanya…..,

Masihkah ada kasih bunda ?

Aku bertanya ….,

Masihkah ada belaian lembut tangan Bunda ?

Aku bertanya, bertanya dan bertanya

Kepada siapa aku bertanya ?

Aku tak peduli

Aku rindu….,

Aku rindu pada bunda !

Bunda yang membesarkanku

Aku rindu ? Bunda ….

Sindanglaut, Mei 1996


Sekali lagi aku mencoba untuk menulis sesuatu tentang hidup dan kehidupanku, tapi saat ini aku tak mampu untuk mengingatnya kembali. Otakku seperti beku pikiranku serasa kosong tak bisa menjangkau alam hayalku.

HAMPA

Biar sakit ku tempuh

Dalam hidup yang tak pasti

Di hari ke hari kuambil hikmah

Tak sempat, ku tak dapat

Lari lagi kesempatan

Sayang itu Cuma sekali

Tak lagi sama hari ini

Tanpa arti kembali ku pergi

Hanya ada sesal di hati

Kenapa hanya aku

Tidakkah yang lain ?

Yang hanya tersipu dari malu terpendam

Hariku yang hilang

Terbawa lamunan mengandai

****

Malam ini aku kembali berusaha untuk mengungkapnya ternyata usahaku tidak sia-sia, kali ini aku berhasil menjangkaunya.

Dalam hati aku bersyukur, karena aku masih mampu berkhayal. Dalam hatiku seperti ada sesuatu yang mengganjal tapi aku tak tahu hal apa yang meresahkanku.

KAMI TAK TAHU

Tuan, tahun ini ” kaum” kami tak tahu

Tidak tahu apa yang akan terjadi tahun ini

‘Mereka’ hanya akan tahu tahun ini, Apa yang tuan tahu ?

Tolong beritahu apa yang tuan tahu tahun ini

Lima hari lima malam kami lupa ‘makan’

Nantikan yang tak tahu tahun ini

Tuan pemilik tahun yang banyak hari-hari,

Kami pun tak tahu

‘Kaum’ kami tak tahu ?

Tuan tahun ini

Semua tak tahu, tuan !

****

Malam berikutnya aku berusaha untuk memejamkan mataku tapi aku selalu gelisah. Ingin rasanya aku mencurahkan semua isi hatiku pada seseorang yang dianggap sebagai teman sejati, tapi aku tak memiliki apa yang aku inginkan. Mungkin akan tiba suatu saat nanti aku mendapatkan apa yang aku inginkan.

SEPI

Irama hidup serasa tak seimbang

Bila sendiri terasa sepi

Sebait demi sebait syair indah akan tercipta

Manakala itu disaat sepi

Bila sendiri terasa sepi

Teringatlah akan diri

Serasa dibenci, terusik ?

Sampai kapan aku terdustai, entah ?

Bila sendiri terasa sepi

Aku ingin bernyanyi

Tapi tanpa nada ?

Yang terasa indah bila dikaji

Sudah habis hilang …

Bila sendiri terasa sepi

Ku cari pena, dan berlari hindari sepi

Orang itu tak mau sendiri, karena itu terasa sepi

****

Aku selalu bertanya pada diriku sendiri, apakah aku sanggup dan mampu untuk menggapai apa yang aku inginkan ? Atau apakah aku hanya akan mendapatkan kegagalan dan kekcewaan? Dua pertanyaan inilah yang selalu mengganggu konsenku dan menjadi ganjalan dihatiku.

SEBARIS PUSPA

Sebaris puspa berderet

Termenung, berkalung kegelisahan

Kelopaknya yang merah

Satu persatu gugur diiringi rasa gundah

Hujan yang didamba tak kunjung turun

Lamat hanya terdengar guntur dikejauhan

Menambah gelisah sebaris puspa berderet

Ada rasa yang menyerta

Ada asa yang merana

Ada kuasa yang menggana

Sebaris puspa berderet

Air mata menjadi perhiasan abadi

Denyut nadi serasa tak bermakna

Yang didapat hanya sumpah serapah

Sebaris puspa berderet

Tumbuh diantara ilalang kesunyian

Menyerap sari kepalsuan

Mencerna dusta yang melanda

Sebaris puspa berderet

Yang dirindu hanya maut

Tuk lepas dari jerat kesunyian

Tergolek molek dan damai

Sebaris puspa berderet

****

2 Komentar (+add yours?)

  1. Agus Kuswanto
    Sep 06, 2008 @ 00:51:22

    mantaaaf…

  2. Tabel Warna « toko herbal yogyakarta
    Apr 19, 2012 @ 16:37:10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: